Sultan-Ageng-Tirtayasa-Banten-1140px-x-740px.jpg

22/10/2021 0

Sultan Ageng Tirtayasa Banten merupakan pemimpin Kesultanan Banten yang ke-6. Di bawah kepemimpinannya, Banten mencapai puncak kejayaan. Kawasan tersebut menjadi pusat perdagangan internasional.

Keharuman nama Banten sebagai pusat perdagangan internasional menarik perhatian VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie). Organisasi dagang milik Belanda ini ingin melakukan monopoli perdagangan di wilayah Banten.

Berawal dari hal itulah sang Sultan Banten melakukan perlawanan. Sayangnya, sultan harus menghadapi pengkhianatan dari orang terdekat. Simak kisah selengkapnya berikut ini!

Silsilah Keluarga Sultan Ageng Tirtayasa

Sultan Ageng Tirtayasa lahir pada tahun 1631 di Kesultanan Banten. Ayahnya bernama Sultan Abu al-Ma’ali Ahmad—yang saat itu menjadi sultan Banten ke-5. Dari garis ayahnya, Sultan Ageng Tirtayasa merupakan cucu Sultan Abul Mafakhir Mahmud Abdulkadir atau Sultan Agung. Raja ke-4 Banten ini dikenal berani dan gigih melawan penjajah.

Sementara ibunya adalah Ratu Martakusuma—putri dari Pangeran Jayakarta Wijayakrama. Dari ibu dan ayah yang sama, Sultan Ageng Tirtayasa memiliki empat saudara. Nama keempat saudaranya, yaitu Pangeran Kilen, Pangeran Lor, Ratu Kulon, dan Pangeran Arya.

Selain itu, Sultan Ageng juga memiliki saudara dari ibu berbeda, tetapi satu ayah. Keempat saudara tirinya tersebut, yaitu Pangeran Kidul, Pangeran Wetan, Ratu Timpuruk, dan Ratu Intan.

Saat Sultan Ageng Tirtayasa kecil, ia diberi gelar Pangeran Surya. Setelah sang ayah meninggal dunia, Sultan Ageng dinobatkan sebagai sultan muda di Banten. Ia bergelar Pangeran Dipati. 

Usai sang kakek juga wafat, Sultan Ageng Tirtayasa menggantikan ayahnya sebagai raja ke-6 dengan gelar Sultan Abdul Fattah Al-Mafaqih. Tak lama kemudian, Sultan Abdul Fattah Al-Mafaqih mendirikan keraton baru di Dusun Tirtayasa. Karena itu, ia berganti gelar menjadi Sultan Ageng Tirtayasa.

Sultan Ageng Tirtayasa Banten menikah sebanyak tiga kali. Namun, ia baru menikah lagi setelah istri pertamanya meninggal dunia. Istri kedua sang sultan bernama Nyi Ayu Ratu Gede. Sementara istrinya yang ketiga bernama Ratu Nengah. Dari ketiga istrinya, sang sultan diberikan karunia 18 orang anak. 

Baca juga: Mengintip 5 Fakta Menarik tentang Kejayaan Kerajaan Banten

Kontribusi Sang Sultan untuk Banten

Selama memimpin Banten, Sultan Ageng Tirtayasa membuat beberapa kebijakan dan strategi untuk memajukan wilayah tersebut. Berikut ini beberapa kebijakan dan strategi sang sultan.

  • Memulihkan perdagangan internasional dengan mengundang pedagang Prancis, Inggris, Portugis, dan Denmark untuk berdagang di Banten.
  • Memperluas hubungan dagang dengan Persia, India, dan Cina. 
  • Memudahkan akses pengairan sawah dan persiapan suplai perang dengan membangun saluran irigasi di sepanjang Sungai Ujung Jawa hingga Pontang.
  • Membangun pesantren sebagai fasilitas bagi masyarakat yang ingin memperdalam ilmu agama. 
  • Membangun banyak masjid untuk tempat ibadah agar masyarakat mudah dan nyaman dalam beribadah. 
  • Mempertahankan nuansa keislaman di Kesultanan Banten dengan mengangkat Syekh Yusuf sebagai mufti. 
  • Merenovasi bangunan keraton menjadi lebih modern dengan jasa arsitektur Lucas Cardeel.
  • Memperkuat armada laut sebagai pertahanan dari serangan pasukan penjajah maupun negara lain yang ingin menguasai Banten. 

Perjuangan Melawan Penjajah

Keinginan VOC untuk menguasai Banten mendorong Sultan Ageng Tirtayasa melakukan berbagai cara untuk melawannya. Apalagi, VOC kerap menghadang kapal dagang asal Cina yang sedang menuju Banten.

Saat konflik semakin pelik, Sultan Ageng Tirtayasa memerintahkan salah satu putranya—Sultan Haji—untuk mengurus masalah dalam negeri. Sementara urusan luar negeri dipegang oleh Sultan Ageng sendiri. 

Rupanya, kedudukan Sultan Haji sebagai yang mengurus dalam negeri dimanfaatkan oleh VOC. Ia kerap dihasut untuk merebut kekuasaan Banten. Karena dukungan VOC kuat, Sultan Haji berhasil menguasai Banten. Selain itu, ia juga menjadi Raja Surosowan pada tahun 1681. Sayangnya, dukungan dari VOC ada pamrihnya. VOC meminta Sultan Haji untuk menyerahkan Cirebon kepada VOC. Di samping itu, VOC juga mendesak Sultan Haji untuk mengizinkan mereka melakukan monopoli lada di Banten. Ironisnya, Sultan Haji harus menarik mundur pasukan Banten di Pantai Priangan. 

Sultan Haji pun dipaksa untuk menandatangani perjanjian-perjanjian tersebut. Jika di tengah perjanjian berjalan Sultan Haji melanggar, ia harus memberikan uang sebesar 600.000 ringgit kepada VOC. 

Tindakan Sultan Haji yang sewenang-wenang memicu perlawanan dari rakyat Banten sendiri. Mereka di bawah komando Sultan Ageng Tirtayasa ingin mengambil kembali Kesultanan Banten dan mengusir VOC. Upaya mereka membuahkan hasil di tahun 1682; Sultan Haji merasa terdesak akibat serangan rakyat dan Sultan Ageng.

Dalam kondisi terdesak, pasukan VOC datang membantu Sultan Haji. Akibatnya, pasukan Sultan Ageng Tirtayasa harus mundur dari medan pertempuran. Sementara itu, Sultan Ageng dijadikan buronan. 

Sultan Ageng Tirtayasa melarikan diri ke Rangkasbitung bersama para pengikutnya. Kendati melarikan diri, ia tetap melakukan perlawanan terhadap Belanda. Sayangnya, pada tahun 1693, Sultan Ageng tertangkap, lalu dimasukkan ke penjara yang terletak di Batavia. 

Sultan Ageng Tirtayasa dibebaskan pada tahun 1692. Saat itu pula, sang sultan menghembuskan napas terakhirnya.


Demikian sekilas kisah Sultan Ageng Tirtayasa Banten yang berjuang melawan penjajah tanpa lelah. Atas semua jasa dan perannya tersebut, Sultan Ageng Tirtayasa layak menjadi salah satu teladan bagi bangsa Indonesia.