Alat-Musik-Dogdog-Lojor-dari-Banten-1140px-x-740px.jpg

13/10/2021 0

Suku Badui adalah suku asli Indonesia yang mendiami suatu wilayah di Kabupaten Lebak Banten. Lebih detail lagi, letak Suku Baduy berada di sekitar kaki pegunungan Kendeng yang ada di Desa Kanekes. Dalam kesehariannya, suku Baduy menjalankan adat istiadat yang ketat. Mereka bahkan menolak segala bentuk modernisasi, tak terkecuali menolak usulan pemerintah untuk membangun sekolah. Terlepas dari adat istiadat yang ada, Suku Baduy memiliki kesenian tradisional yang menarik untuk ditelusuri. Salah satunya adalah keberadaan Dogdog Lojor. Ada yang pernah mendengar istilah Dogdog Lojor?  Buat yang belum tahu, simak ulasan lengkap mengenai Dogdog Lojor dari Banten berikut ini biar wawasan Anda semakin bertambah. 

Baca juga: 15 Fakta Suku Baduy Banten yang Jarang Diketahui Orang

Apa Itu Dogdog Lojor?


Dogdog Lojor merupakan alat musik khas Banten Selatan yang terbuat dari bambu berukuran besar. Dalam proses pembuatannya, bambu yang telah dipotong seukuran 90 cm akan dilubangi di bagian tengahnya. Setelah itu salah satu sisinya yang berlubang ditutup dengan lapisan membran kulit kambing. 

Membran kulit kambing harus diregangkan, kemudian diikatkan ke bambu menggunakan seutas tali. Nantinya, tingkat kerenggangan kulit kambing inilah yang akan menentukan seberapa baik kualitas suara yang dihasilkan Dogdog Lojor. 

Dogdog Lojor sendiri memiliki beberapa jenis yang dikategorikan berdasarkan variasi suara yang dihasilkan. Dogdog Ringkung dan Gamping merupakan jenis Dogdog yang menghasilkan suara hujan dan suara angin. 

Sementara itu, Dogdog Trolok merupakan Dogdog yang dapat menghasilkan suara mirip air. Sedangkan Dogdog Indung menggambarkan suara katak. Ada juga Dogdog Dongdong yang mampu menciptakan suara mirip unggas. 

Adapun cara bermain alat musik ini adalah dengan dipukul dan mengeluarkan bunyi dog..dog..dog. Inilah alasan mengapa orang menyebutnya dengan Dogdog. Sementara itu, kata Lojor merujuk pada kata lodor atau lonjong yang berarti panjang, sesuai bentuknya. 

Menurut sejarahnya, Dogdog Lojor pertama kali muncul di kawasan Lebak, Banten. Masyarakat setempat biasa menggunakan alat musik ini untuk memeriahkan acara hajat. Selain Banten, daerah lain seperti Cisolok dan Sirna Resmi di Sukabumi juga melestarikan kesenian Dogdog Lojor. 

Berkembangnya seni Dogdog Lojor tak lepas dari kerja keras sejumlah pihak, seperti Bapak Mansyur, Bapak Okri, dan Bapak Oco. Sementara itu, Panji Wulung dan UPEC merupakan perkumpulan Dogdog Lojor yang masih bertahan sampai saat ini. 

Fungsi Dogdog Lojor dari Banten

Alat musik Dogdog Lojor dari Banten ini mungkin dikenal memiliki fungsi sebagai media hiburan. Lebih dari itu, Dogdog Lojor memiliki nilai sakral dan kerap dimainkan di acara penting seperti upacara adat Seren Taun.

Seren Taun merupakan upacara adat khas Banten yang digelar sebagai perwujudan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil panen. Dalam prosesi Seren Taun, masyarakat akan mengumpulkan hasil panen berupa padi untuk kemudian disimpan di sebuah lumbung. 

Padi-padi tersebut akan menjadi alternatif bahan pangan apabila suatu hari ada masyarakat sekitar yang mengalami kelaparan. Dogdog Lojor akan dimainkan ketika petani mulai mengawinkan Dewi Sri yang dikenal sebagai dewi kesuburan tani dengan guru bumi. 

Selain Seren Taun, Dogdog Lojor juga dimainkan di ritual lain seperti Ruwatan, upacara Sedekah Bumi, upacara pernikahan dan perayaan 40 hari lahirnya bayi. Pada intinya, permainan Dogdog Lojor menjadi sarana untuk mengungkapkan rasa syukur, sebagai bentuk kegembiraan, serta bentuk ungkapan menolak bala.

Cara Bermain Dogdog Lojor

Pada mulanya alat musik Dogdog Lojor hanya dimainkan oleh laki-laki. Saat ini, para perempuan pun bisa memainkannya jika mau. Umumnya, pertunjukan Dogdog Lojor membutuhkan 12 pemain. Kedua belas orang tersebut akan dibagi menjadi dua kelompok yang terdiri dari 2 pemain Dogdog dan 4 pemain angklung. 

Dalam atraksi Dogdog Lojor, alat musik angklung akan berfungsi sebagai melodi, sementara peran Dogdog adalah mengatur dan memberi irama. Salah satu lagu yang kerap dimainkan di pertunjukan Dogdog Lojor adalah Kacang Buncis atau Tonggeret. 

Pada mulanya para pemain akan memainkan alat musiknya secara serempak. Di momen berikutnya, kelompok Dogdog akan saling bertanding. Adapun tahapan dalam sesi pertandingan ini antara lain:

  • Ucing-ucingan
  • Oray-orayan
  • Ngadu bedug/dogdog
  • Ngadu domba/biri-biri
  • Ngadu Jalan

Selama pertunjukan para pemain akan mengenakan kostum berwarna hitam, lalu ada juga yang berwarna cerah. Menurut cerita, warna cerah seperti putih melambangkan langit yang menaungi manusia. Sementara warna hitam melambangkan bersatunya bumi dengan alam sesuai kepercayaan adat sekitar. 

Itulah informasi ringkas mengenai alat musik Dogdog Lojor dari Banten. Sekilas penampilan dan cara mainnya mirip dengan gendang, bukan? 

Saat ini kesenian Dogdog Lojor mulai jarang ditemukan. Padahal alat musik ini merupakan warisan budaya yang patut dijaga keberadaannya. Nah, kalau bukan kita yang menjaga kelestarian budaya Indonesia, siapa lagi? 

Semoga informasi di atas bisa menambah wawasan Anda terkait kesenian khas Banten, ya!