Badak-Cula-Satu-Satwa-Hewan-Langka-di-Ujung-Kulon-Banten-1140px-x-740px.jpg

15/10/2021 0

Badak bercula satu atau badak jawa dikenal sebagai hewan langka yang memiliki usia cukup panjang. Jika dilepas di alam bebas, badak jawa bisa hidup sampai umur 40 tahun. Sementara itu, dari segi karakteristik morfologi, badak jawa memiliki keunikan tersendiri dibandingkan jenis lainnya. Salah satu keunikan tersebut, yakni kulit berbentuk mozaik mirip baju zirah. Selain itu, badak jawa juga mempunyai kulit dengan lekuk purbakala yang mengagumkan. Anda ingin tahu lebih banyak mengenai habitat badak jawa, jumlah populasi, serta nasibnya saat ini? Yuk, baca terus artikel ini!

Baca juga: Owa Jawa, Primata Langka yang Lincah dan Setia

Habitat dan Persebaran Badak Bercula Satu

Badak jawa menyukai area yang ditumbuhi alang-alang, kawasan hutan hujan, serta sela rumput tinggi yang berada di dataran rendah. Hewan ini juga kerap berdiam di daerah dekat sungai dan kubangan lumpur. 

Dahulu, badak jawa menyebar ke beberapa negara, seperti Vietnam, Kamboja, Laos, Myanmar, dan Semenanjung Malaya. Pulau Sumatra dan Kalimantan juga diketahui pernah menjadi habitatnya. 

Sayangnya, selama 3.000 tahun terakhir, habitat badak jawa semakin menyusut. Sampai sekarang, persebaran badak jawa hanya ada di dua negara, yaitu Indonesia dan Vietnam. 

Negara Vietnam menempatkan badak jawa di Taman Nasional Cat Tien yang berada di sebelah utara Ho Chi Minh City. Sementara di Indonesia, konservasi badak jawa terletak di Taman Nasional Ujung Kulon, Provinsi Banten. 

Namun, pada tahun 2011, badak jawa di Vietnam ditemukan mati dengan cula terpotong. Hal ini menyebabkan punahnya badak jawa di Vietnam. Tentu dengan adanya peristiwa tersebut, Taman Nasional Ujung Kulon menjadi habitat badak jawa yang terakhir.

Populasi Saat Ini


Tahun 2019, badak bercula satu di Taman Nasional Ujung Kulon berjumlah 72 ekor. Jumlah badak betina sekitar 33 ekor, sedangkan yang jantan 39 ekor.

Lalu, pada bulan Maret 2021, badak jawa di Taman Nasional Ujung Kulon melahirkan satu ekor anak. Jadi, total jumlah badak jawa di wilayah konservasi hingga bulan April 2021 mencapai 73 ekor. Jumlah tersebut terdiri dari 40 ekor jantan dan 33 betina.

Kelahiran satu ekor badak jawa kembali terjadi di bulan April dan Juni 2021. Pada bulan April 2021, lahir satu ekor anakan berjenis kelamin jantan. Sebaliknya, bulan 2021, satu ekor anakan betina lahir dari indukan bernama “Kasih”. Jika digabungkan dengan badak jawa lain, jumlahnya mencapai 75 ekor. 

Mengapa Badak Bercula Satu Harus Dilindungi?

Salah satu alasan badak jawa dilindungi di Indonesia adalah keseimbangan alam. Badak jawa memiliki kemampuan menebar benih. Ketika benih ditebar, maka tumbuh tanaman-tanaman baru yang dapat menjaga ekosistem.

Tidak hanya itu, cara makan badak jawa juga mempengaruhi kualitas hutan. Pasalnya, badak jawa memakan pucuk dedaunan atau ranting muda. Setelah bagian tersebut habis, pucuk daun bertumbuh lagi. Nah, pucuk daun muda tersebut mampu menyerap karbon dioksida lebih banyak daripada yang tua. 

Badak jawa juga membantu pertumbuhan biji tanaman baru dengan cara membuka jalur. Pasalnya, ketika jalur terbuka, sinar matahari—yang mempercepat proses pertumbuhan biji—lebih mudah masuk.

Mengapa Terancam Punah?

Perburuan liar bukan satu-satunya penyebab badak jawa nyaris punah. Menurut narasumber dalam siaran pers IPB University pada tanggal 22 Februari 2021, penyempitan habitat juga menjadi faktor pemicu kepunahannya. 

Penyempitan habitat terjadi karena banyak penebangan liar dan pembukaan lahan tambang yang tidak memperhatikan keseimbangan alam. Selain itu, perluasan area pemukiman akibat pertambahan populasi manusia juga menjadi penyebab sempatnya habitat badak jawa.

Belakangan ini pun muncul bukti baru, bahwa kegagalan reproduksi menyebabkan badak nyaris punah. Faktor kegagalan itu beragam, salah satunya organ reproduksi terkontaminasi estrogen dalam waktu relatif lama. Di samping itu, gangguan perkembangan embrio juga dapat memicu kegagalan reproduksi.

Upaya Melindungi Hewan Langka Ini dari Kepunahan

Berbagai upaya melindungi badak jawa dari kepunahan sudah dilakukan oleh Pemerintah RI. Salah satunya melalui konservasi di Taman Nasional Ujung Kulon seluas 5.100 hektare khusus untuk habitat badak jawa.

Wilayah konservasi badak jawa tersebut letaknya terpisah dari Tanah Genting Laban – Karang Ranjang. Lokasinya dinamakan Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA). Kawasan JRSCA dipastikan aman dari ancaman letusan Gunung Anak Krakatau maupun bencana tsunami.

Mencegah kepunahan badak jawa juga dilakukan dengan memerhatikan kesehatannya. Petugas Taman Nasional Ujung Kulon secara rutin memeriksa kondisi badak jawa, terutama jika ada yang baru melahirkan.

Selain pemantauan kesehatan, pemerintah berencana melakukan uji analisis genetik DAN badak jawa. Uji analisis tersebut ditujukan agar bisa membuka habitat kedua yang menjamin keragaman genetiknya. Dalam hal ini, tentu ada campur tangan manusia saat proses reproduksi. Dengan demikian, badak jawa bisa berkembang biak lebih cepat dan tetap lestari.

Itulah ulasan singkat seputar badak bercula satu yang kini berada di Taman Nasional Ujung Kulon sebagai habitat satu-satunya. Yuk, mulai sekarang, lindungi satwa langka dari kepunahan agar keseimbangan alam terjaga.