Museum Benteng Heritage, Pesona Tionghoa di Tangerang

02/11/2020 0
Museum-Benteng-Heritage-1140px-x-740px.jpg

Tahukah Anda nama museum kebudayaan Tionghoa pertama di Indonesia? Museum Benteng Heritage, itulah namanya. Terletak di kawasan pasar lama Tangerang, museum ini jadi saksi kehidupan warga Tangerang sejak masa penjajahan Belanda.

Gedung museum yang merupakan bangunan tertua di Kota Tangerang ini letaknya berdekatan dengan kelenteng tertua di Tangerang. Kelenteng tersebut dikenal dengan nama Kelenteng Boen Tek Bio. Sama seperti museum, Boen Tek Bio juga merupakan kelenteng tertua di Tangerang.

Ingin mengenal lebih dalam tentang peninggalan kebudayaan Tionghoa ini? Simak ulasannya dalam artikel berikut ini!

Sejarah Museum Tionghoa Pertama di Indonesia


Asal mula nama Benteng Heritage berkaitan dengan sejarah etnis Tionghoa di Indonesia. Dulu bangunan ini merupakan benteng pertahanan yang dibangun oleh Belanda untuk menghadapi kerajaan-kerajaan di Banten. 

Sebelum jadi dijadikan museum, bangunan tersebut awalnya merupakan rumah perkumpulan komunitas Cina di daerah Benteng. Dulu bangunannya amat memprihatinkan dan tidak terawat. Hingga pada tahun 2009, seseorang bernama Udaya Halim mengambil alihnya dan melakukan proses restorasi.

Alasan Udaya Halim melakukan hal tersebut, karena merasa bangunan tua itu merupakan situs budaya bernilai historis yang tinggi dan perlu dijaga kelestariannya. Proses mengembalikan kondisi bangunan menjadi seperti semula memakan waktu kurang lebih dua tahun. 

Berbagai upaya ditempuh oleh Udaya Halim, termasuk melakukan riset hingga luar negeri dan menempuh kajian budaya agar proses restorasi tidak merusak orisinalitas bangunan. Hal tersebut dilakukan karena kurangnya literatur atau dokumen yang berkaitan dengan kondisi asli bangunan museum.

Usai melakukan proses restorasi, Udaya Halim menambahkan beberapa dekorasi Tionghoa untuk memperkuat nuansa Tionghoa. Museum dengan bangunan baru diresmikan pada 11 November 2011.

Lokasi dan Rute Menuju Museum

Lokasi Museum Benteng Heritage berada di Jalan Cilame nomor 20, Pasar Lama, Tangerang. Jika dari Cilegon ke museum, Anda bisa naik bus dari rute Cililitan menuju Garuda Taman Mini. Lanjutkan perjalanan dengan rute Pluit menuju Stasiun Grogol. Dari Stasiun Grogol, Anda bisa naik Tangerang Line dan berhenti di Stasiun Tangerang.

Anda bisa keluar dari stasiun menuju Jalan Kiasnawi, kemudian belok ke kiri menuju Jalan Kisamaun. Dari sini, Anda bisa berjalan kaki menuju kawasan Pasar Lama. Hanya butuh kurang lebih 10 menit untuk sampai di Pasar Lama dengan jalan kaki. 

Anda akan bertemu dengan menara jam besar yang berada di depan pasar lama. Dari menara jam tersebut, Anda dapat berjalan menuju Gedung Gapensi Tangerang. Tepat di sebelah kanan gedung, Anda akan menemukan gang kecil. Masuk melalui gang kecil tersebut maka Anda akan menemukan bangunan museum.

Selain angkutan umum, Anda juga bisa naik kendaraan pribadi dari Cilegon menuju museum. Dibutuhkan waktu kurang lebih 1,5 jam jika Anda melewati jalan tol atau 2,5 jam perjalanan jika melalui jalur biasa. 

Daya Tarik Museum Tionghoa Pertama di Indonesia


Museum Tionghoa di tengah pasar lama Tangerang menyimpan banyak cerita tentang kehidupan masa lalu. Cerita ini tertuang dalam bentuk artefak yang dipamerkan. Berbagai hal unik terkait sejarah kehidupan etnis Tionghoa juga ada di sini.

Salah satu sejarah yang diceritakan adalah tentang kedatangan armada Cheng Ho dan pasukannya. Rombongan yang dipimpin oleh Chen Ci Lung ini terdiri dari 30.000 pasukan yang berlayar dengan  300 kapal. Rombongan tersebut mendarat di Teluk Naga pada tahun 1407.

Bangunan Benteng Heritage memiliki dua lantai. Di lantai satu, Anda dapat menemukan restoran, tempat penjualan souvenir, tempat pertemuan, dan beberapa ruangan lainnya. Sedangkan, berbagai koleksi barang antik sejarah etnis Tionghoa dari masa lalu disimpan di lantai dua. Berikut beberapa koleksi barang antik yang jadi daya tarik utamanya:

1. Timbangan Opium

Koleksi yang satu ini berasal dari Tiongkok, Korea, Jepang, Burma, Indonesia, dan Thailand. Selain timbangan opium, tempat bersejarah ini juga menyimpan timbangan antik lainnya. Salah satunya, timbangan yang digunakan untuk berdagang.

2. Botol Kecap

Selain timbangan, botol kecap, berikut label-label kecap yang terkenal sejak dulu juga menjadi koleksi yang dipamerkan. Mulai dari kecap yang diproduksi di Benteng Tangerang berlabel Ketjap Benteng Teng Giok Seng, hingga label dan cap Ketjap Siong Hin yang pabriknya masih berdiri sampai sekarang.

3. Artefak Kuno

Saat proses restorasi, ditemukan banyak benda antik yang kini juga dipamerkan. Benda-benda bersejarah tersebut ditemukan saat penggalian untuk pembuatan pondasi. Beberapa di antaranya berupa keramik, paku handmade dari besi dan timah, kerang, bahkan gigi.

4. Karya Sastra

Selain barang antik, museum ini juga menyimpan koleksi sastra lama Tionghoa dan Tangerang. Salah satu karya sastra yang tersimpan adalah surat milik O.K.T atau Oey Kim Tiang.

5. Aksesoris Kuno Wanita Tionghoa

Salah satu aksesoris wanita yang menarik di sini adalah sepatu China berukuran sangat kecil. Saat melihat benda ini, tentunya Anda akan bertanya-tanya bagaimana cara wanita jaman dulu mengenakan sepatu sekecil ini.

Sepatu China tersebut merupakan sepatu yang digunakan untuk membentuk kaki wanita agar berukuran kecil. Selain sepatu, terdapat juga koleksi hiasan kepala, hiasan baju, hiasan pundak, kain batik China, hingga kebaya encim.

Museum ini juga memiliki koleksi istimewa, yaitu barang-barang koleksi “Kartini dari Batavia”, yang merupakan istri kapitan di Batavia bernama Auw Tjoei.

6. Elektronik Tua

Pecinta kamera pasti betah berlama-lama di sini. Pasalnya, berbagai koleksi kamera tua yang dipamerkan. Meski tua, kamera-kamera tersebut masih bisa menghasilkan gambar berkualitas tinggi. Koleksi kamera ini ditempatkan dalam ruangan khusus, terpisah dari koleksi lainnya.

Selain kamera tua, Gedung bersejarah ini juga memiliki koleksi berbagai pemutar lagu kuno. Alat pemutar musik paling kuno yang dipamerkan adalah Edisson phonograph buatan tahun 1890-an.

7. Relief Abad 17

Relief yang ada di bagian atas ruangan merupakan koleksi paling berharga. Relief dari abad 17 itu merupakan penggalan cerita dari Three Kingdom yang 95% kondisinya masih asli.

Agenda Kegiatan Museum

Museum Tionghoa di Tangerang tidak hanya menyimpan benda-benda bersejarah, tempat ini juga sering digunakan sebagai tempat berkumpul komunitas pecinta sejarah. Bahkan di berbagai kegiatan perayaan Tionghoa, seperti Cap Go Meh dan Perayaan Peh Cun, museum ini juga turut serta.

Jika Anda berkunjung ke sana, jangan lupa untuk mencicipi kuliner peranakan Tionghoa Benteng dari restoran di lantai satu. Menu makan siang dan makan malam yang disediakan restoran ini dijamin halal, sehingga Anda bisa bersantap ria dengan tenang.

Harga Tiket Masuk

Pengunjung yang hendak masuk akan dikenakan tarif berbeda-beda, dengan pembagian sebagai berikut:

  • Umum : Rp20.000
  • Pelajar: Rp10.000
  • Mahasiswa: Rp15.000
  • Wisatawan mancanegara dan Tur Heritage Walk (minimal 10 orang): Rp50.000

Satu peraturan yang perlu diingat ketika berkunjung ke sana, Anda tidak diperkenankan memotret koleksi barang antik di lantai dua. Jika ingin mengambil gambar, Anda dapat berkunjung ketika hari jadi Benteng Heritage tanggal 11 bulan 11.

Objek Wisata di Dekat Museum

Berkunjung ke museum jangan lupa untuk mampir ke Klenteng Boen Tek Bio, terlebih saat mendekati hari raya etnis Tionghoa. Karena kawasan Pasar Lama ini akan ramai dengan para penjual amplop angpao dan kue keranjang. Dengan berkunjung ke kawasan ini, Anda dapat menyaksikan langsung sejarah dan budaya Tionghoa Benteng sejak awal berkembang hingga sekarang.

Demikian sekilas cerita tentang Museum Benteng Heritage yang berada di kawasan Pasar Lama, Tangerang. Jika Anda tertarik mengenal lebih jauh budaya etnis Tionghoa, segera jadwalkan untuk berkunjung ke museum ini!


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *