Tarian-Bendrong-Lesung-Cilegon-1140px-x-740px.jpg

04/10/2021 0

Cilegon merupakan kawasan yang berlokasi di ujung barat Pulau Jawa dan berbatasan langsung dengan Selat Sunda. Di dunia industri, Cilegon terkenal sebagai kawasan penghasil baja terbesar di Asia Tenggara.Meskipun berkembang menjadi kawasan modern, beberapa masyarakat setempat masih mau melestarikan kebudayaan yang mereka miliki. Menurut karakteristiknya, budaya Cilegon memiliki kaitan erat dengan kebudayaan Sunda. Mengingat dahulu, kabupaten dan kota yang ada di Banten merupakan bagian dari Provinsi Jawa Barat.  Salah satu kekayaan budaya Cilegon di bidang kesenian adalah tari Bendrong Lesung. Bagi masyarakat Cilegon, kesenian ini identik dengan tradisi menyambut panen raya. Seperti apa asal mula dan keunikannya? Berikut ulasannya. 

Asal Mula Tari Bendrong Lesung

Nama lain dari kesenian Bendrong Lesung adalah tari Gondang Lesung. Secara umum, Bendrong Lesung merupakan tradisi masyarakat Cilegon untuk menyambut datangnya panen raya. 

Konon, ada dua versi cerita terkait asal mula kesenian Bendrong Lesung. Versi pertama adalah cerita yang paling terkenal saat ini. Seperti yang kita tahu, dahulu Indonesia dikenal sebagai negara agraris yang mana sebagian masyarakatnya bekerja sebagai petani. 

Bagi para petani, musim panen merupakan momen yang paling ditunggu. Ketika musim panen tiba, baik masyarakat dan petani di Cilegon, semuanya menyambut momen tersebut dengan penuh kegembiraan, kemudian mewujudkannya dengan menggelar kesenian Bendrong Lesung. 

Itulah versi pertama dari asal mula Bendrong Lesung. Sementara itu, versi kedua menyebutkan kesenian ini terinspirasi dari tangisan anak. Menurut suatu sumber, ada cerita mengharukan dibalik kesenian Bendrong Lesung. 

Kabarnya, dahulu kawasan Banten sempat dilanda kekeringan hebat sehingga menyebabkan petani setempat tidak bisa bertani dan bercocok tanam. Alhasil, masyarakat pun mulai mengalami kelaparan. 

Untuk menghibur anak-anak yang menangis akibat kelaparan, ibu-ibu petani pun berpura-pura menumbuk menggunakan lesung. Mendengar tumbukan lesung, si anak akan mengira ibunya sedang menyiapkan makanan untuk mereka. 

Pada awalnya, Bendrong Lesung hanya dilakukan oleh penari perempuan dewasa. Namun, seiring berjalannya waktu, Bendrong Lesung juga biasa dibawakan oleh penari anak-anak dan laki-laki. 

Begitulah dua versi cerita yang mengiringi asal-usul kesenian Bendrong Lesung.

Baca juga: 7 Tarian Tradisional Banten Beserta Penjelasan Lengkapnya

Keunikan Kesenian Bendrong Lesung

Berbeda dengan tari pada umumnya, gerakan Bendrong Lesung fokus pada cara memukul lesung. Inilah yang membuat gerakannya terlihat unik. Para penari Bendrong Lesung biasanya terdiri dari 6 orang. 

Sebelum mulai, penari akan berdiri mengeliling lesung dan mulai melakukan gerakan menumbuk dengan membenturkan alu ke arah lesung. Alung dan lesung yang beradu kemudian menghasilkan suara yang unik seperti Tak..Tuk..Tak…Tuk

Sambil melakukan gerakan menumbuk, penari juga menyanyikan lagu tradisional khas Sunda, misalnya Bajing Loncat dan Mamangguan. Tempo tumbukan mulanya berjalan lambat, tetapi lama kelamaan berubah menjadi cepat dan semakin meriah. 

Karena beratnya alu, biasanya akan ada penari cadangan yang bersiap menggantikan penari utama ketika kelelahan. Bicara mengenai kostum, penari menggunakan busana khas petani yang akan pergi ke sawah. 

Bukan hanya itu, kostumnya pun menggunakan kain warna-warni demi menghadirkan nuansa ceria sesuai dengan momen panen raya yang penuh suka cita. 

Bendrong Lesung Saat Ini

Di zaman modern seperti sekarang, keberadaan teknologi menggantikan fungsi alu dan lesung dalam menumbuk padi. Hadirnya mesin penggiling membuat proses menggiling padi menjadi lebih cepat dan praktis. 

Walaupun kondisi telah berubah, tetapi masyarakat Cilegon berusaha terus melestarikan kesenian Bendrong Lesung sebagai salah satu kekayaan budaya Provinsi Banten. 

Kini, gelaran Bendrong Lesung tidak terbatas pada momen panen raya saja. Di acara khitanan, pernikahan, festival, dan penyambutan tamu penting, pemerintah dan masyarakat setempat kerap menggelar pertunjukan Bendrong Lesung. 

Selain alu dan lesung, Bendrong Lesung modern juga menambahkan tampah, bakul, bedug, dan gendang sebagai alat musik yang mengiringi para penari. 

Kesenian Khas Cilegon Selain Bendrong Lesung

Selain Bendrong Lesung, Cilegon juga memiliki kesenian khas lainnya, yaitu Patingtung dan Rudat. 

1. Patingtung

Patingtung merupakan pertunjukan bela diri yang didominasi oleh gerakan pencak silat. 

Untuk menambah variasi gerakan, biasanya pemain menambahkan gerakan tari yang atraktif seperti tari piring hingga adegan debus. Kesenian Patingtung sendiri dapat dibawakan secara individu maupun berkelompok.

Menurut cerita dari mulut ke mulut, mulanya Patingtung dipakai sebagai sarana para ulama untuk mengumpulkan masyarakat dan mengajak mereka menunaikan ibadah sholat. 

Seiring berjalannya waktu, kesenian Patingtung mulai berubah fungsi. Dewasa ini, Patingtung lebih dikenal sebagai kegiatan yang sifatnya menghibur. 

Itu sebabnya, Patingtung biasa ditampilkan di peristiwa penting atau acara syukuran seperti pernikahan atau khitanan.

2. Kesenian Rudat

Rudat merupakan alat musik tradisional khas Banten yang keberadaannya nyaris punah akibat perkembangan teknologi modern. 

Konon, kehadiran alat musik ini tak lepas dari pengaruh budaya Arab yang masuk ke Tanah Air. Menurut cerita, keberadaan Rudat sudah terlihat sejak Abad 16 M atau ketika zaman Sultan Ageng Tirtayasa

Dahulu, Rudat dipakai sebagai alat untuk berdakwah Islam lewat syair-syair. Alat musik ini juga menjadi sarana membangkitkan semangat masyarakat melawan penjajah. 

Kini, kesenian Rudat banyak digelar ketika perayaan pernikahan atau sebagai pengiring kesenian bela diri khas Banten seperti Debus dan Terumbu.

Baca juga:  Filosofi Unik Dibalik 9 Alat Musik Tradisional Banten

Tari Bendrong Lesung memang menjadi tarian khas Banten paling populer. Meski zaman semakin maju, kesenian ini perlu dilestarikan agar bisa menjadi warisan budaya bagi generasi penerus.