Masjid-Agung-Banten-1140px-x-740px.jpg

01/12/2020 0

Masjid Agung Banten merupakan peninggalan Kerajaan Banten yang masih bisa disaksikan hingga kini. Sesuai namanya, Masjid Agung ini berlokasi  di wilayah Banten yang berada di ujung barat Pulau Jawa. Masjid ini memiliki keunikan tersendiri yang sungguh menarik untuk disimak.

Pasalnya, sejak abad ke-14 kejayaan wilayah Banten di masa Kerajaan Banten sudah dikenal hingga ke mancanegara. Kala itu, di masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanudin dan Sultan Ageng Tirtayasa di abad ke-16 dan ke-17, wilayah Banten menjadi pusat perdagangan rempah di Asia Tenggara.

Selain itu, wilayah Banten juga menjadi pusat kerajaan Islam di Jawa Barat serta menjadi tempat persinggahan pedagang dari mancanegara sehingga sering bersentuhan dengan budaya asing. 

Baca juga: Kompleks Banten Lama, Warisan Sejarah yang Melegenda

1. Sejarah Berdirinya Masjid Agung Banten


Masjid Agung Banten ini didirikan oleh Sultan Maulana Hasanudin yang adalah putra dari Sunan Gunung Jati. Usia masjid ini sudah mencapai 4 abad lebih sejak didirikan antara tahun 1560-1570. Namun, bangunan masjid masih tampak kokoh dan terawat dengan baik. 

  • Menilik kisah di masa lalu, pembangunan Masjid Agung Banten ini merupakan instruksi dari Sultan Gunung Jati kepada putranya, Sultan Hasanudin.  Sultan Gunung Jati meminta putranya mencari  tanah sebagai lokasi pendirian Kerajaan Banten termasuk masjid, alun-alun, dan pasar. 
  • Setelah mendapat petunjuk dari Allah SWT, didapatlah lokasi pendirian kerajaan Banten tersebut. Ada cerita bahwa air laut tersibak menjadi sebuah daratan setelah sultan memanjatkan doa. 
  • Masjid pertama inilah yang hingga kini masih bisa disaksikan bangunannya yang kokoh dan megah. Masjid yang menjadi  simbol dari kejayaan agama Islam di kawasan Banten masa lalu. 
  • Saat ini, banyak wisatawan yang datang mengunjungi dan melakukan salat di Masjid Agung Banten setelah berziarah ke makam raja-raja kuno Banten tak jauh dari area masjid. Para wisatawan juga mengagumi menara masjid  yang menjulang tinggi, bahkan naik ke puncaknya. 

Masjid Agung Banten yang merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia yang kaya nilai sejarah perkembangan Islam di Banten ini pun menjadi cagar budaya. Pasalnya, masjid inilah yang menjadi pusat penyebaran agama Islam di wilayah Banten.

2. Keunikan Masjid Agung Banten


 Setiap peninggalan dari masa lampau tentu menyimpan keunikan tersendiri yang selalu menarik untuk diulas, termasuk masjid ini. 

A. Bangunan Masjid

Bangunan masjid seluas 1,3 hektare ini dikelilingi oleh kompleks seluas 2 hektare dan dikelilingi tembok setinggi satu meter. 

B. Menara di Timur Masjid

– Menara Masjid Agung Banten terbilang unik karena tampak lebih menyerupai mercusuar dibandingkan menara masjid. Pengunjung bahkan bisa naik ke atas menara melalui anak tangga berjumlah 83 di lorong sempit yang hanya bisa dilewati satu orang. Tinggi menara ini mencapai 24 meter dengan diameter bawah mencapai 10 meter. 

– Pengunjung bisa menyaksikan indahnya pemandangan laut lepas perairan Banten serta perahu nelayan setelah sampai di puncak menara. Pasalnya, lokasi menara dengan pantai hanya berjarak 1,5 km. Menara ini pun memiliki fungsi tersendiri. Selain untuk mengontrol perairan di laut dan menyimpan amunisi, juga sebagai tempat mengumandangkan azan.

C. Tiyamah

– Menuju ke bagian Selatan Mesjid Agung Banten terdapat bangunan bertingkat Tiyamah berbentuk persegi empat panjang. 

– Bangunan ini berfungsi sebagai tempat musyawarah dan diskuti tentang keagamaan. Mengusung  arsitektur Belanda kuno, bangunan ini juga hasil kreasi  arsitek Lucazoon Cardeel.

D. Atap

Berbeda dengan masjid lain yang berkubah, di bagian atap terdapat lima atap tersusun sebagai lambang rukun Islam. 

E. Istiwa

Konstruksi tembok berbentuk persegi delapan yang disebut Istiwa atau mizwalah sebagai tempat pengukur waktu yang menggunakan bayangan sinar matahari.

F. Soko Guru

Masjid Agung ditopang dengan tiang berjumlah 24 (soko guru) serta 4 tiang utama di tengah ruang masjid.

G. Mihrab

– Di bagian bawah masjid, terdapat empat umpak batu yang bentuknya mirip  buah labu.

– Mihrab tempat imam terletak di dinding barat seperti ceruk.

– Masjid memiliki empat buah pintu masuk rendah pada dinding timur yang memisahkan ruang utama masjid dengan serambi timur.

3. Arsitektur Masjid Agung Banten

Arsitektur Masjid Agung Banten penuh dengan nuansa Islami yang dipadukan dengan budaya Barat dan Cina.

  • Arsitektur masjid ini merupakan perpaduan budaya Jawa, Tiongkok, Eropa, dan Hindu. 
  • Atap yang bertumpuk menyerupai pagoda Tiongkok menjadi ciri khas masjid beserta dua serambi pelengkap di sebelah utara dan selatan masjid.
  • Konon arsitektur yang membangun masjid ini adalah Raden Sepat yang pernah mengerjakan Masjid Demak dan Masjid Cirebon. 
  • Menara masjid dibangun oleh arsitek Belanda yang bernama Hendrik Lucazoon Cardeel di masa pemerintahan Sultan Haji pada tahun 1620. Arsitek ini membelot berpihak pada Kerajaan Banten dan masuk Islam sehingga diberi gelar Pangeran Wiraguna.
  • Sentuhan Tiongkok terdapat pada desain tangga masjid yang merupakan karya Tjek Ban Tjut yang bergelar Pangeran Adiguna.

4. Aktivitas Menarik di Masjid Agung Banten


Pengunjung Masjid Agung Banten biasanya mampir dalam rangka wisata religi dan sejarah setelah mengunjungi Kesultanan Banten. Apa saja aktivitas yang bisa dilakukan di masjid ini?

  • Anda dapat melaksanakan salat di masjid dan berkeliling masjid serta menikmati keunikan salah satu masjid tertua di Indonesia ini. 
  • Anda juga bisa naik ke puncak menara untuk menyaksikan hiruk pikuk wilayah Banten serta menyaksikan keindahan laut.
  • Berziarah di pemakaman raja-raja kuno Kesultanan Banten. 
  • Menikmati jajanan dan berbelanja barang dagangan berkualitas khas Banten dengan harga terjangkau sebagai cendera mata.

5. Rute menuju Masjid Agung Banten

Masjid Agung Banten berlokasi di Desa Banten Lama, Kecamatan Kasemen; lokasi ini berjarak 10 km dari Kota Serang, Banten. 

  • Pengunjung dapat mencapai lokasi menggunakan jalur darat dan laut. Jika melalui darat, Anda bisa mencapai area masjid dan Kesultanan Banten secara langsung. Bila naik kereta api, Anda bisa turun di Stasiun Karangtau yang berjarak 1 km dari lokasi.
  • Jika melalui jalur laut, bisa melalui Pelabuhan Karangtau dan harus menempuh jarak 1,5 km menuju lokasi. 
  • Pngunjung dari arah timur biasanya mereka yang datang dari  Kota Jakarta dan Tangerang. Sementara itu, pengunjung dari arah barat datang dari Kota Cilegon dan Sumatra. Dari arah selatan, pengunjung umumnya datang dari Kabupaten Lebak dan Pandeglang.
  • Pengunjung dari Jakarta bisa melalui Jalan Tol Tengerang—Merak dan keluar di pintu Tol Serang Timur. Setelah itu, Anda bisa melewati Taman Tugu Debus dan Jalan Jendral Sudirman. 
  • Setelah itu, perjalanan bisa dilanjutkan menuju Jalan Armada dan Jalan Ayip Usman, lalu masuk Jalan Raya Banten sampai Jembatan Sungai Cibanten. Dari sini, Anda tinggal mengambil jalur kiri dan masuk di kawasan Kesultanan Banten.

Penutup

Lokasi Masjid Agung Banten sekitar 10 km sebelah utara kota Serang  tidak terlalu sulit untuk dicapai sehingga menjadi destinasi wisata religi, sejarah, dan budaya. Para pengunjung juga bisa berziarah ke makam raja-raja kuno dari Kerajaan Banten di sekitar masjid. 

Ada makam Sultan Maulana Hasanudin beserta istri, Sultan Ageng Tirtayasa, serta Sultan Abu Nasir Abdul Qohhar. Sementara itu, di bagian utara serambi terdapat makam Sultan Maulana Muhammad dan Sultan Zainul Abidin. 

Sebagai masjid kebanggaan rakyat Banten, Masjid Agung Banten ini tidak hanya dikunjungi oleh wisatawan atau peziarah lokal melainkan juga dari mancanegara. Mereka datang tidak hanya untuk beribadah, melainkan juga untuk menikmati peninggalan masjid tertua beserta arsitekturnya.

Nah, jadi jangan ketinggalan untuk menyaksikan keunikan dan kemegahan Masjid Agung Banten ini secara langsung ya? Dengan berwisata religi dan sejarah seperti ini, Anda dapat  lebih menghargai warisan leluhur yang sarat muatan historis. Pun, dijamin Anda bakal terpesona akan keindahan arsitektur masjid ini. 

Baca juga: Benteng Speelwijk, Hadiah Sultan Banten untuk Jenderal VOC