Suku Baduy Banten adalah suku asli Indonesia yang tinggal di kaki pegunungan Kendeng, tepatnya di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten. Konsistensi masyarakat setempat yang masih menjaga budaya dan adat warisan leluhur dengan baik menarik banyak perhatian masyarakat luar.
Secara fisik, perawakan orang Baduy mirip dengan orang Sunda pada umumnya. Dalam kesehariannya, mereka memakai bahasa Sunda dengan dialek Banten. Lalu, apa saja yang membedakan mereka dengan masyarakat luar? Inilah 15 fakta terkait suku Baduy Banten yang jarang diketahui orang.
Baca juga: Batik Banten: Sejarah, Keunikan, Ciri Khas, dan Jenis
1. Terbagi menjadi Baduy Luar dan Baduy Dalam

Suku Baduy terbagi menjadi dua, yaitu Baduy dalam yang tinggal di hutan dan Baduy luar yang tinggal mengelilingi lokasi tempat tinggal Baduy dalam. Perbedaan paling mencolok dari keduanya dapat dilihat dari cara berpakaiannya. Suku Baduy luar umumnya memakai baju hitam sedang Baduy dalam mengenakan pakaian serba putih.
Baca juga: Menelisik Perbedaan Suku Baduy Dalam dan Luar yang Unik
2. Masih Berpegang Teguh pada Adat dan Tradisi Nenek Moyang
Selain masih menjaga kearifan lokal, Suku Baduy dikenal memegang teguh tradisi nenek moyang mereka. Itu sebabnya, gaya hidup sehari-hari suku ini, terutama suku Baduy dalam, sangat berbeda dengan masyarakat luar.
Tidak seperti Suku Baduy luar, Suku Baduy dalam belum banyak mengenal budaya luar seperti uang, sekolah, dan teknologi. Oleh karenanya, bisa dipahami jika mereka tidak bisa menulis dan membaca.
3. Baduy Dalam memiliki Tiga Kampung
Suku Baduy Dalam memiliki tiga kampung yang berbeda, yaitu Kampung Cibeo, Cikeusik, dan Cikertawarna. Kampung Cibeo menjadi tempat yang paling terbuka bagi para wisatawan untuk menginap. Namun, aturan setempat tetap diterapkan dan harus ditaati para pengunjung, seperti misalnya tidak boleh mengambil foto.
Pengunjung harus memakai perlengkapan mandi yang alami tanpa bahan kimia. Suku Baduy juga biasa mandi di beberapa titik sungai, termasuk urusan kakus, menggosok tubuh dengan batu, serta menggosok gigi dengan serabut kelapa.
4. Bentuk Rumah tidak Menentukan Kekayaan Suku Baduy
Kekayaan Orang Baduy tidak terlihat dari bentuk rumah yang mereka tinggali, karena rumah mereka mirip satu sama lain. Yang membuat seseorang dianggap lebih kaya dibandingkan warga lainnya yaitu jumlah tembikar kuningan yang tersimpan dalam rumah. Status keluarga semakin tinggi jika memiliki banyak simpanan tembikar di rumah mereka.
5. Hidupnya Tergantung pada Alam Sekitar
Suku Baduy sangat menghargai alam karena memang hidup mereka amat tergantung pada alam. Mereka hidup selaras dengan lingkungan sekitar, termasuk hutan. Mereka juga pandai menjaga lingkungan sehingga kualitas alamnya selalu terjaga.
6. Selalu Jalan Kaki saat Bepergian
Saat bepergian, suku Baduy Banten tidak boleh memakai kendaraan seperti sepeda, motor, apalagi mobil. Kondisi ini yang membuat Suku Baduy seolah terasing dari masyarakat luar. Mereka selalu berjalan kaki ke mana pun, termasuk saat menjual hasil panen atau kerajinan tangan ke kota.
7. Kawalu

Kawalu merupakan tradisi unik suku Baduy, yaitu berpuasa selama 3 bulan berturut-turut. Mirip dengan Nyepi di Bali, Kawalu adalah aktivitas sakral yang tidak boleh diganggu oleh para pengunjung. Saat menjalankan tradisi Kawalu, mereka berdoa memohon keselamatan dan hasil panen yang melimpah. Saat Kawalu pun pengunjung tidak boleh bermalam dan hanya boleh menyambangi kampung Baduy luar saja.
8. Ayam adalah Makanan Mewah
Meskipun di kampung suku Baduy banyak ayam berkeliaran, ayam adalah menu makanan yang mewah. Menu ini disantap sebulan sekali atau saat upacara tertentu saja, seperti pernikahan dan acara adat lainnya.
Baca juga: Ayam Bekakak: Kuliner Lezat yang Sarat akan Budaya
9. Taat pada Pu’un
Pu’un adalah kepala adat yang ditaati oleh masyarakat suku Baduy karena mempunyai kelebihan. Pu’un bertugas menetapkan waktu tanam dan panen, mengobati warga yang sakit, serta menetapkan hukum adat bagi warga Baduy.
10. Perjodohan masih Terjadi
Perjodohan masih banyak terjadi dan pihak laki-laki akan bebas memilih perempuan Baduy yang disukai. Jika belum memiliki pilihan, anak laki-laki harus menerima pilihan orang tua atau Pu’un.
11. Main Kecapi di Malam Hari
Berhubung terbatasnya cahaya di malam hari, suku Baduy hanya main kecapi sebagai hiburan saat malam sembari mengobrol. Hal kecil seperti ini sudah membuat mereka merasa bahagia.
12. Gelas dari Bambu
Suku Baduy tidak boleh memakai gelas dan piring saat makan dan minum. Mereka pun memakai tempat dan tadah minum dari bambu panjang. Kopi panas yang diseduh dengan bambu memberikan aroma yang khas dan rasa yang berbeda.
13. Cita-Cita Orang Tua pada Anak Baduy
Cita-cita orang tua terhadap anak mereka sangat sederhana, yaitu dapat membantu mereka untuk berladang, itu saja.
14. Panen Madu dan Durian dengan Bebas

Kampung Baduy memang penghasil durian yang legit. Buah ini banyak terdapat di sepanjang tepian sungai dan berserakan serta membusuk karena tidak ada yang mengambil.
Selain itu, suku Baduy juga panen madu hutan lalu dijual di pasar kota. Dua jenis madu hasil dari suku Baduy yaitu madu hitam yang banyak khasiatnya dan madu biasa dengan aroma bebungaan yang berbeda.
15. Pemakaman Tanpa Tanda
Pemakaman suku Baduy memakai lahan di hutan dan tanpa tanda kuburan sehingga tidak ada gundukan ataupun batu nisan. Setelah pemakaman, lahan kuburan akan diratakan seperti semula. Jelang tujuh hari di lahan tersebut akan ditumbuhi tanaman lalu digunakan kembali untuk berladang.
Nah, itulah 15 fakta dari Suku Baduy Banten yang tidak banyak diketahui masyarakat luar. Semoga informasi ini bisa menambah wawasan mengenai kekayaan budaya Indonesia, ya.